Kamis, Maret 27, 2008
In The Name of JESUS..!!
Entah apa yang terjadi saat aku membaca buku itu, hatiku begitu tergerak dengan segala yang terjadi pada suster Faustina serta pesan-pesan Yesus yang terasa begitu menggetarkan hatiku. Aku tidak mengetahui benar atau salah tapi hatiku tersentuh begitu dalam dan aku percaya pada Kerahiman Yesus yang tak terselami dengan kepercayaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Maka saat itu aku mulai mendaraskan Koronka dengan keyakinan bahwa Tuhan Yesus berkuasa melepaskan aku dari ikatan-ikatan dunia dan dosaku. Tidak hanya itu saja, hampir setiap hari aku sempatkan diriku membuka kitab suci khususnya perjanjian baru dengan mengambil satu bacaan yang terbuka saat aku membuka tak beraturan, puji Tuhan serasa mimpi bahwa tiap kubuka hampir dapat dipastikan bacaan itu selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan hatiku saat menjalani kehidupan sehari-hariku. Aku tidak tahu apakah itu adalah kebetulan yang hampir setiap waktu, ataukah Tuhan sungguh menyentuhku hingga bacaan di Gerejapun kudapatkan beberapa kali sebelum aku menghadirinya ketika kusempatkan membacanya sebelum berangkat. Aku tidak peduli kata orang saat kudapatkan kenyataan ini bertubi-tubi terjadi padaku, hingga saat di misa Minggu harus kusembunyikan air mataku yang terus mungucur dengan derasnya. Otakku tidak dapat mengendalikan tangisku, aku merasa kasih Tuhan yang begitu besar bagiku hingga aku terus menangis hingga akhir Misa. Telinga dan pikiranku yang biasa berdengung atapun penuh dengan segala kekhawatiran tentang apa yang sudah akan terjadi serta berbagai rencana-rencana harian, tak ada satupun yang muncul. Hanya kesunyian dan keharuan yang begitu dalam.
Sentuhan Tuhan terasa begitu mengalir tak terduga, salah satunya saat ada tanya di hatiku apakah sudah benar caraku berdoa dan apalagi yang harus kulakukan supaya pantas bagiNya. Maka suatu sore saat aku bermotor dengan anak-anakku, mendadak aku ingin berhenti di kios penjual buku bekas dekat rumahku, yang sudah lama tidak pernah kudatangi. Lama berdiri mencari, mendadak aku melihat satu buku dengan gambar wajah Bunda Maria yang begitu kukenal karena sempat tersebar di tempat kerjaku. Ternyata itu adalah wajah Bunda Maria dari penggambaran anak-anak yang dapat melihatnya di Medjugordje. Dari buku itulah akhirnya kutahu tentang itu. Namun tidak hanya itu saja yang kudapatkan dari buku yang hanya dihargai 4 ribu rupiah oleh penjualnya, namun pesan khusus untuk rajin berpuasa dan berdoa demi perdamaian dunia serta jawaban bagaimana caranya berdoa yang menurut bunda adalah seperti kita bicara dengan orang tua kita. Sederhana namun menakjubkan bagi diriku karena lewat puasa dan doa-doa yang kudaraskan aku telah diperdamaikan serta diubah begitu rupa olehNya. Kasih Tuhan sungguh tak berkesudahan, terpujilah Tuhan Yesus yang datang menyelamatkan.
Rabu, Maret 26, 2008
Maafkan & Lupakan
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambi l tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dengan pasangan, suami / isteri, kekasih, adik / kakak, kolega, dll,karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebh besar ketimbang kekecewaan masa lalu. Nobody's perfect. Belajarlah menulis di atas pasir.
Minggu, Maret 23, 2008
Paska: Surat Maria Magdalena untuk Josef dari Arimatea
Tiga hari telah lewat. Dan saat itu mataku yang telanjang melihat sebuah adegan yang memilukan. Walau aku telah mengenal begitu banyak lelaki dalam hidupku, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa memenuhi bathinku, hingga suatu saat ketika aku berpapasan dengan Dia yang telah mengusir tujuh roh jahat dari dalam diriku. Pandangan mataNya begitu teduh membuat aku merasa nyaman untuk menjadi diriku sendiri. Sejak itu aku menemukan kembali martabat diriku. Sejak itu hanya ada satu nama yang berdiam dalam inti sanubariku yang paling dalam, dan nama itu tak lain adalah nama Yesus. Sejak itu aku meninggalkan kebiasaan masa silamku dan mengikuti Dia. Berada di sampingnya, melihat wajahnya, mendengarkan kata-katanya telah cukup untuk memuaskan kerinduan bathinku yang paling dalam, kerinduanku untuk menemukan sebuah arti dalam hidup yang singkat di dunia ini.
Dan apa yang terjadi tiga hari yang lalu, Josef? Aku yakin engkau tahu hal ini karena engkaupun ada di sana. Ketika Yesus berteriak "Selesailah sudah!", di saat itu aku melihat duniaku serasa gelap gulita, hampa tiada makna. Saat itu dunia seakan telah mencapai titik akhirnya tanpa harapan akan hari esok. Ia yang diharapkan menjadi raja kini tinggal kulit membalut tulang tergantung lesu di antara langit dan bumi di atas sebuah palang kayu kering yang dingin. Masih teringat beberapa saat lalu, ketika para serdadu menghempaskan palu berat ke atas paku yang menembusi tangan dan kakinya, di saat itu aku merasa bahwa tubuhkupun ikut tersobek berkeping-keping. Ketika serdadu menancapkan tombak menembusi jantungnya, aku merasa bahwa hatikupun serasa ikut hancur dan luluh. Paku karat juga menembusi tubuhku. Tombak tajam juga mengiris jantungku. Saat itu tak ada harapan lain kecuali satu keinginan untuk ikut mati bersama dia yang aku cintai. Aku yakin bahwa iapun mencintai diriku. Aku lemah dan jatuh pingsan di kaki salib itu tanpa ada seorangpun yang menghiraukan keadaanku. Namun akhirnya aku tersadar, ternyata aku belum mati, tetapi harus memeluk bathinku yang terus mengucur darah, darah kepedihan dan penderitaan.
Aku tak ingin untuk meninggalkan tempat penyaliban itu. Lebih baik aku duduk di kaki salib itu menjaga tubuhnya yang telah berubah kaku dari pada tubuh Tuhanku dimakan gerombolan anjing liar yang menanti di kaki salib itu. Kawanan anjing itu tahu bahwa setelah keramaian itu berakhir mereka akan memperoleh santapan gratis. Dan aku tak mau tubuh Yesusku mengalami nasib seperti itu. Namun aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap tubuh kaku dan lesu itu. Terima kasih Josef, bahwa akhirnya engkau datang bersama Nikodemus untuk memasukan tubuh Yesus dalam kubur baru yang kau siapkan itu. Sekali lagi terima kasih!
Selama tiga hari tiga malam yang terdengar di antara kami hanyalah suara ratap dan tangis tanpa henti. Dan di kejauhan sana kami mendengar suara sorakan ria dari mereka yang menginginkan kematian Yesus. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana para prajurit menari ria di bawah kaki salib ketika membuang undi atas pakaian Yesus. Kini seluruh kota Yerusalem seakan berpesta ria karena kematian Yesus. Mereka menari, mereka bersorak. Namun pada saat yang sama hati kami hancur lebur, luluh dan lantak.
Kini di pagi hari ketiga, ketika hari masih gelap. Dadaku seakan meledak oleh kerinduan untuk datang ke kubur Yesus. Seorang diri aku berlari di tengah ketakutanku. Semoga sepanjang perjalananku tak ada orang yang memergoki aku. Dan walaupun di tengah kegelapan, aku tahu di mana kubur Yesus itu. Tapi Josef, apa yang terjadi ketika saya tiba di sana? Aku menemukan kubur telah terbuka. Batu besar yang menutup pintu kubur Yesus telah terguling. Dan di sana tak kutemukan tubuh Yesus. Tahukah engkau perasaan apa yang menyelimuti aku di saat itu? Pedihhh!!! Tuhanku telah mati secara keji. Dan kini aku harus berhadapan dengan kekejian yang baru, yakni bahwa tubuhnya telah dicuri. Aku membayangkan kalau-kalau tubuhnya telah dibuang di tengah kawanan anjing liar yang memenuhi taman Golgotha ini. Mataku yang telah membengkak karena menangis selama tiga hari, kini harus dipaksa menangis lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung tak tahu apa yang harus diperbuat. Bingung tak tahu ke mana aku harus pergi. Aku bahkan bingung bagaimana harus tetap hidup. Kini aku telah kehilangan segalanya, tidak juga mayat yang telah tak bernyawa itu.
Dalam kepedihanku aku mendengar seseorang bertanya kepadaku, "Mengapa engkau menangis?" Tak mampu aku menahan tangisku di saat itu, aku bahkan semakin keras menangis dan menjawab, "Mereka telah mengambil tubuh Tuhanku, dan aku tak tahu di mana mereka meletakannya." Aku membalikan badanku ke arah suara itu, dan aku melihat secara samara-samar seorang tukang kebun berdiri di sana. Sekali lagi ia melontarkan pertanyaan yang sama. Sebetulnya aku tak ingin menjawab pertanyaannya dan melanjutkan ratap tangisku. Namun tiba-tiba sebuah pikiran muncul di benakku, siapa tahu sang tukang kebun ini tahu di mana tubuh Yesus diletakan. Karena itu aku menjawab di tengah isak tangisku, "Kalau seandainya engkau telah mengabil tubuhnya, tolongggggg....tolonggggg katakan kepadaku di mana telah kau letakan tubuh itu, agar aku mengambilnya dan menempatkannya di tempat yang aman."
Dan sungguh luar biasa Josef. Kudengar namaku disebut. Kudengar namaku dipanggil. Bagaimana mungkin sang tukang kebun ini mengetahui namaku? Dan justru ketika namaku "Maria" dipanggilnya, di saat itu juga aku yakin sejuta kali bahwa orang yang berdiri di sana bukanlah tukang kebun, tetapi Yesus sendiri. "Guru!!! Guruuuu!!!" Aku berteriak dan meratap sekuat tenagaku. Namun kini ratapanku bukanlah suatu ratapan kesedihan, tetapi kegembiraan. Aku berlari ke arahnya dan berusaha memeluk kakinya, kaki yang pernah aku urapi dengan minyak wangi beberapa saat yang lalu. Aku ingin mencium lagi kaki yang pernah ditembusi paku karat dan dingin itu. Namun niatku segera kuurungkan ketika dia mengatakan bahwa dia belum kembali ke rumah bapanya. Dia memberikan sebuah pesan; "Pulanglah, dan beritakanlah hal ini kepada saudara dan saudariku yang lain."
Dan Josef...! Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan di Yerusalem, aku bagai seorang gila. Kalau sebelumnya aku menangis dan menangis, kini aku menari dan terus menari. Aku tak peduli ketika banyak orang yang memulai kesibukan hari itu melihat diriku. Mereka mengira bahwa ke tujuh roh jahat yang pernah diusir oleh Yesus dari diriku kini telah lembali merasuki diriku. Aku tak peduli. Aku tahu mengapa aku menari. Dan memang aku harus menari. "Aku telah melihat Tuhan. Ia tidak mati, tetapi tetap hidup." Ketika pesan Yesus ini aku sampaikan, tak satupun yang percaya. Mereka harus berlari menuju kubur Yesus. Mereka membutuhkan bukti, dan akhirnya percaya juga.
Josef saudaraku...! Yesus yang kau kuburkan itu telah bangkit. Dia tetap hidup! Dan kita memiliki alasan untuk menari, yakni bahwa kebangkitan Yesus menjadi jaminan bagi kita. Kita kelak akan bangkit lagi seperti Dia. Alleluya!!! Mari kita bersama-sama menari! Let us dance the night away, because Jesus is risen!
Sabtu, Maret 22, 2008
Renungan Menjelang Paskah
Malam dengan hujan mengguyur. Dan dingin menusuk tulang. Namun jauh lebih dingin lagi dalam sanubariku. Untuk makan, kewajiban siapakah menyediakannya? Apakah kewajiban dara kecil itu, ataukah kewajiban orang dewasa? Dimanakah tersimpan hati nurani kita saat itu? Mengapakah kekerasan seringkali dilakukan atas nama hak kita sebagai orang yang merasa lebih berkuasa? Dengan rasa sakit dalam hatiku, aku melihat peristiwa malam itu sebagai awal segala kekerasan di dunia kita. Ya, kelak bukankah dara kecil yang belum mengenal dunia ini akan melakukan hal yang sama terhadap mereka-mereka yang lebih lemah pula? Dimanakah keadilan saat itu? Dan dimana pula kebenaran yang sering kita dengungkan dalam tiap kesempatan? Kemanakah perginya kepekaan kita sebagai manusia? Kemana?
Melintas di perempatan jalan sungai saddang dan veteran malam itu, membuatku tiba-tiba teringat akan segala kitab dan bacaan mengenai cinta kasih terhadap sesama yang telah kubaca. Teringat akan segala petuah dan nasehat tentang kebenaran dan keadilan yang wajib kita lakukan di dunia ini. Terkenang pula aku akan kalimat-kalimat mengancam akan pembalasan Tuhan bila kita tidak melaksanakan kehendakNya di dunia ini. Ya, aku teringat semuanya dengan perasaan penuh ironi dan kesakitan di dalam hatiku. Manusia, ah manusia, siapakah engkau? Hidup dalam kenyataan jauh, ya jauh lebih menantang pemikiranku daripada segala buku teori tentang bagaimana untuk bisa hidup sejahtera dan aman.
Dan akupun ternyata tidak berhenti untuk mencegah kekerasan itu. Aku takut akan resikonya. Aku takut untuk mencampuri apa yang tidak terkait dengan hidupku sendiri. Maka dengan perasaan perih, aku lewat saja dan meninggalkan kejadian itu jauh di belakangku. Berusaha melupakan kejadian-kejadian nyata dalam dunia untuk segera sembunyi dalam ruang kamarku yang terang, aman dan nyaman. Sambil membaca buku-buku tentang cinta kasih dan upaya untuk meraih keberhasilanku sendiri. Aku pun menjadi manusia yang biasa. Menjadi manusia yang tak juga berhasil untuk menemukan makna keberadaanku di dunia ini. Aku hidup dalam perlindungan kekuasaan, kekayaan dan kekuatan sendiri. Aku.
Menjelang hari raya Paskah ini, aku membaca iklan tentang panggilan untuk menonton bersama film The Passion of Christ. Film yang menampakkan kebengisan manusia terhadap manusia lain yang jauh lebih lemah. Manusia yang tanpa kekuatan, kekuasaan apalagi kekayaan sehingga dapat dengan mudah dipaksa untuk mati. Sebuah film tentang Kristus yang menderita. Namun kekerasan yang dipaparkan adegan demi adegan mengkhawatirkan aku pada sebuah kata, balas dendam. Pada akhirnya, kita hanya manusia dan sebagai manusia, kita cenderung melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan hanya karena contoh yang juga seharusnya tidak dicontoh. Film menarik yang menuturkan penderitaan manusia Yesus, penderitaan yang sesungguhnya denga rela dipanggul-Nya demi menanggung dosa-dosa manusia, membuat kita memandang para pelaku dengan rasa marah. Dan ingin membalas. Pada saat itu juga kekerasan menampakkan dirinya dalam bentuk kemarahan kita terhadap prilaku mereka yang telah menyiksa Kristus. Padahal, bukan itu maksud Yesus sendiri. Bukan, bukan itu. Dia yang telah bersabda "kasihilah sesamamu manusia" tak akan pernah menerima tindakan balas dendam yang penuh kemarahan dan karena itu merasa sah untuk melakukan kekerasan terhadap sesama kita. Sesama kita semua. Siapa pun dia.
Today, is a BIG Day...!!!
Sebelum saya mampu menjawab, ia telah memberikan jawabannya sendiri, "Oh well, it is just an ordinary day like yesterday!" Aku tertegun! Betulkah hari ini tak bedanya dari hari kemarin? Apakah hari ini hanyalah sekedar repetisi, hanyalah sebuah perulangan dari pengalaman masa silam? Bila demikian, betapa membosankan hari yang baru ini. Bila demikian tak ada sesuatu yang bisa kita harapkan.
Dan sebelum saya sempat berpikir lebih panjang, sebuah kalimat telah mengalir dari mulutku, "I am hoping a special grace and blessing today to make it a different day." Yap...setiap hari adalah hari yang baru. Setiap hari adalah hari yang istimewa. Setiap hari ada berkat baru. Dan berkat Tuhan yang diterima hari inilah yang menjadikannya berbeda dengan hari kemarin. Karena itu kita tak akan berhenti berharap.
My friends: Continue walking the path of your journey with hope! Hope keeps us alive and strong... thus tomorrow never dies! Hari Esok tak akan pernah mati bila kita teguh berharap padaNya. Amin!!
Apa Yang Kau Lihat..?!
Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia sehingga membuat berang Cyrus karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluargnya. Mereka lalu dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.
Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular.
"Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?" tanya sang kaisar.
"Yang mulia," jawab Cagular, "Bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba, hamba akan kembali pulang dan tunduk patuh pada Yang Mulia sepanjang umur hamba."
"Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?" tanya Cyrus lagi.
"Yang mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia," jawab Cagular.
Cyrus amat terkesan dengan jawaban dari Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di propinsi sebelah selatan.
Pada perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya pada istrinya, "Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang kerajaan tadi? Tidakkah kau lihat koridor ruang pengadilan tadi? Tidakkah kau lihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni!"
Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia menyatakan, "Aku benar-benar tidak memperhatikan semua itu."
"Oh begitu!" tanya Cagular terheran-heran, "Lalu apa yang kau lihat tadi?"
Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam. Lalu ia berkata, "Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku."
Apakah anda tahu demi apa anda mati? Demi kekasih anda? Rumah? Negara? Keyakinan? Kebebasan? Cinta?
Tentukan demi apa anda bersedia untuk mati, dan anda pun akan menemukan demi apa anda hidup.
Hiduplah demi sesuatu yang anda bersedia untuk berkorban, bahkan mati pun rela, maka anda akan hidup dengan penuh. Anda pun akan menemukan bagaimana anda bisa berbahagia.
Kamis, Maret 20, 2008
Drama Penyaliban Yesus
Dikisahkan dalam bulletin tersebut bahwa seorang pastor yang bekerja di Pacific Northwest bercerita tentang pengalaman bagaimana ia menonton drama penyaliban Yesus di parokinya yang dilakonkan oleh kelompok kaum muda paroki. Pembimbing kaum muda melakonkan peranan Yesus, sedangkan anggota kelompok kaum muda mewakili kelompok massa yang memenuhi halaman istana Kaifas dan Pilatus serta Via Dolorosa di saat penyaliban Yesus dan berteriak keras menuntut kematiannya.
Suara mereka bergema keras; ¡§Salibkan dia!! Salibkan Dia!!¡¨ Lalu mereka menyeret pelakon Yesus menuju halaman gereja dan di sana peristiwa penyaliban itu dilakonkan.
Dari atas salib sang ¡§Yesus¡¨ mengucapkan lagi ketujuh kalimat keramat yang pernah diucapkan Yesus, namun sang ¡§Yesus¡¨ kadang memodifikasi kata-kata Yesus agar sesuai dengan situasi mereka. Sedangkan pastor paroki berada di tengah umat menyaksikan drama tersebut. Baginya, drama itu hanyalah salah satu bentuk lakonan dari sekian drama penyaliban yang pernah dia lihat, dia bahkan sudah mampu menerka adegan apa yang akan terjadi berikutnya.
¡§Walaupun kamu melakukan hal ini terhadap saya, namun ketahuilah saya tetap mencintai kamu, aku memaafkan kamu!¡¨ Demikian Yesus berkata-kata. Dan di saat Yesus mulai berteriak dari atas salibnya, sang pastor melihat seorang gadis kecil delapan tahun berdiri di depan kelompok anak-anak. Ada air mata mengalir di pipinya disertai isak tangis. Si gadis kecil seakan tak mampu menerima bahwa Tuhannya harus menerima nasib seperti itu.
Sang pastor itu berkata, ¡§Saat melihat air mata di pipi sang gadis kecil ini, aku merasa iri terhadapnya. Buat aku yang ¡¥professional¡¦ adegan di hadapanku hanyalah sebuah drama. Namun bagi sang gadis cilik ini, hal itu adalah sesuatu yang nyata.¡¨ Sang gadis kecil ada di sana saat Yesus disalibkan dan dia mampu merasakan seluruh situasi saat itu dengan seluruh dirinya sendiri. Sang pastor masih melanjutkan, ¡§Sering kali saya datang mengikuti upacara Jumat Agung hanya sebagai penonton untuk melihat apa yang terjadi pada diri Yesus. Namun aku lupa bahwa Yesus tergantung di di atas kayu kering ini menderita lahir dan bathin, menderita karena secara fisik dia dirajam. Dia juga menderita secara bathin, karena dia dipermalukan, Dia ditelanjangi di depan publik. Namun Dia menerima semuanya ini hanya karena satu alasan, karena Dia mencintai aku dan anda. Adegan penyaliban adalah sebuah bahasa yang diucapkan Yesus bahwa Dia rela mati secara keji agar aku dan anda tetap hidup!!
Terima kasih Yesusku!!
Kamis Putih: Sang Guru Adalah Hamba
Dua tahun lalu saat mengunjungi Israel bisa dilihat dengan jelas bagaimana tapak jalan di Palestina. Debu beterbangan di musim panas dan tentu saja akan becek berlumpur di saat hujan. Dan bisa kita bayangkan keadaan jalan di sana dua ribu tahun silam. Alas kaki yang biasa bagi kebanyakan orang adalah sandal (kayak sandal jepit dewasa ini). Alas kaki seperti ini tentu saja tak mampu melindungi kaki dari debu dan lumpur yang berhamburan sepanjang perjalanan. Karena alasan inilah, di depan pintu setiap rumah selalu disediakan air secukupnya, dan kebiasaan membasuh kaki sebelum memasuki rumah ini bahkan telah menjadi bahagian dari tata hukum pentahiran yang harus dipatuhi, seperti halnya membasuh tangan sebelum makan. Bila para tamu hendak memasuki rumah, seorang hamba telah menunggu di depan pintu dekat persediaan air itu dengan handuk di tangan, siap untuk mencuci kaki para tamu.
Dalam kelompok kecil Yesus dengan para rasulnya tak ada orang yang berperan sebagai hamba. Yesus bahkan mengatakan secara terus terang kepada para muridnya bahwa Ia tidak akan memanggil mereka sebagai hamba (Yoh 15:15). Dan di antara para murid sendiri pernah terjadi pertengkaran untuk memperebutkan tempat terhormat di antara mereka (Mark 9:34). Mereka mungkin melihat keberadaan mereka bersama Yesus sebagai sebuah status yang harus dibanggakan, dan dengan demikian tak akan rela untuk membungkukan badan untuk tunduk melayani yang lain, apa lagi mencuci kaki yang lain. Dan dalam situasi seperti inilah Yesus mengambil peran sang hamba yang berdiri di depan pintu dengan handuk di tangan untuk mencuci kaki para "tamunya."
Paulus benar...!!! Bahwa Yesus "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba." Saat ini adalah saat terakhir kalinya Yesus makan bersama para rasulnya. Namun ia tak hanya ingin mengadakan "farewell party" dengan para muridnya, tetapi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan sebuah ajaran amat penting, yakni mengajarkan para muridnya untuk saling mengasihi. Dan Yesus, dengan perbuatannya yang nyata mengajarkan bahwa ungkapan paling jelas dari "mencintai sesama" nampak dalam action to serve others.
Mengapa sang Sabda Allah, sang Sabda yang adalah Allah dan yang sejak awal mula ada bersama Allah harus mengambil peran seorang hamba untuk mencuci kaki para muridnya, para murid yang tak sudi membasuh kaki sesamanya yang lain? Mungkin karena Yesus mampu melihat kehadiran dirinya sendiri dalam diri mereka. Yesus yang dipenuhi kehadiran Roh Kudus mampu melihat dengan mata cinta. Sedangkan mata para muridnya masih belum terbuka. Roh Kudus baru akan dicurahkan setelah kebangkitannya, dan karena itu saat ini mereka masih dikuasai oleh kegelapan, oleh kelemahan diri mereka sendiri. Kelak setelah mata mereka terbuka, mereka akan melayani tanpa lelah untuk mewartakan cinta Tuhan hingga ke segala sudut bumi.
Di saat para murid sibuk memperebutkan tempat terhormat di antara mereka, Yesus justru memilih untuk menjadi hamba yang bersedia untuk melayani. Mungkin aku dan anda sama seperti para murid, berusaha menjadi yang terbesar. Namun kita lupa bahwa kunci menjadi yang terbesar itu justru terletak pada keberanian untuk menjadi kecil, keberanian untuk meninggalkan segala kebesaran dan menghampakan diri menjadi seperti seorang hamba yang siap dengan handuk di tangan untuk mencuci kaki orang lain.
Selamat memasuki hari Perjamuan Terakhir bersama sang Guru yang adalah juga sang hamba.
Arti Mencintai Seseorang
Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu dengan yang tepat. Jadi ketika! kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.
Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka. Tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.
Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama. Perasaan seperti itu adalah percakapan termanis yang pernah kamu rasakan. Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu. Tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada.
Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga !!!
Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh didalam hatinya. Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh didalam hatimu. Ada hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu ingin dengar. Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya.
Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju.
Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannyapergi. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walapun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.
Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang.
Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah.
Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum. Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, Kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu danbenar-benar memeluk dia.Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai dengan keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang kamu inginkan.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia.
Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain.Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga.
Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan. Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya ! sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita. Dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka.
Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal.Mereka hanya membuat segala hal yang datang dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari, mereka yang mencoba. Mereka hanya bisa menghargai orang-orang penting yang telah menyentuh hidup mereka.
Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan kemesraan dan berakhir dengan air mata. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kau melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.
Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu, jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kamu menangis.
Rabu, Maret 19, 2008
A Lesson Of Love
"Di sini keadaan sulit ," katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. "Kau adalah harapan kami."
Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.
Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur.
Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Shinji merindu kan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya.
Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka.
Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.
Shinji baru sempat duduk di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah gadis itu agar bisa bertemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya , Shinji ingin sekali membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu. Akhirnya, dia menyurati ayahnya , meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.
Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas.
Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.
Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.
Akhirnya , tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup.
Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik , dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela , mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian tersentak karena kecewa.
Bukan Asaka , tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. "Selamat datang," katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis meng hias wajah Yumi yang tidak cantik.
"Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini," kata Yumi, sambil sekilas memandang mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi.
"Aku akan mengurus bawaanmu ," kata Shinji dengan senyum terpaksa.
Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.
Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan , keluh Shinji dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi ? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Asaka ? Apakah impian lamanya untuk memperistri Asaka harus dilupakannya ?
Setahun lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk kekamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.
Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Shinji menyekop dan memasuk kan pasir kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.
Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah , "Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Yumi."
"Sama-sama," gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.
Beberapa hari kemudian , sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya , jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron.
Ketika Asaka muncul , Yumi menoleh kepada Shinji. "Sambutlah dia," katanya.
Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, "Apa maksudmu?"
"Shinji , sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara Perayaan pesta bunga lalu." Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. "Aku tahu bahwa dia, bukan aku , yang kauinginkan menjadi istrimu."
"Tapi..."
Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. "Ssstt," bisiknya. "Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu , yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku."
Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak diketahuinya.
"Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan." Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yang tiba-tiba membuncah didalam dadanya.
Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, "Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!"
"..True love doesn't have a happy ending, because true love never ends...."
By: Unknown
Selasa, Maret 11, 2008
Sengat Lebah
Sekonyong-konyong, seekor lebah hitam yang besar masuk melalui jendela dan mulai terbang mendengung kian kemari dalam mobil.
Si gadis kecil, yang alergi berat terhadap sengat lebah, meringkuk ketakutan di kursi belakang. Jika lebah itu menyengat, ia dapat mati dalam satu jam!
“Oh, Papa,” ia menjerit ketakutan. “Ada lebah! Ia akan menyengatku!”
Sang ayah menghentikan mobilnya, tangannya menggapai berusaha untuk menangkap si lebah. Serangga itu terbang mendengung sekelilingnya, dan akhirnya menabrak kaca depan mobil di mana ayah menangkapnya masuk ke dalam genggamannya. Dengan menggenggam lebah dalam kepalannya, si ayah menantikan sengatan lebah yang tak terhindarkan. Lebah menyengat tangan ayah dan dalam kesakitan, sang ayah melepaskan lebah.
Lebah bebas terbang kembali dalam mobil. Si gadis kecil kembali panik, “Papa, ia akan menyengatku!” Dengan lembut sang ayah menenangkannya, “Tidak, anakku, ia tidak lagi dapat menyengatmu sekarang. Lihatlah tangan Papa.” Sengat lebah itu ada di sana, di tangannya.
1 Kor 15:55: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”
Yesus mengatakan kepada kita,
“Lihatlah tangan-Ku.”
Di tangan-Nya ada sengat setan,
sengat maut,
sengat dosa,
sengat dusta,
sengat ketakberdayaan.
Semua sengat itu ada di tangan Yesus. Apabila kalian melihat tangan-tangan-Nya yang berlubang ngeri bekas paku, sadarilah bahwa, demi kalian, Yesus mengenakan kepada DiriNya Sendiri segala sengsara yang dapat ditimpakan setan. Dengan demikian, Ia menjadikan setan seekor lebah hitam besar yang telah kehilangan sengatnya - sekarang, yang dapat dilakukan setan hanyalah mendengung. Itulah kemenangan yang Yesus menangkan bagi kalian!
YESUS DALAM SAKRAT MAUT DI TAMAN ZAITUN
Pada waktu Tuhan menciptakan Adam yang pertama, Ia membuatnya tidur nyenyak, membuka lambungnya, mengambil satu tulang rusuknya, dan darinya dijadikan-Nya Hawa, isterinya, ibu semua yang hidup. Lalu, Ia membawa perempuan itu kepada Adam, yang berseru: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Itulah perkawinan yang tentangnya ada tertulis: “Inilah sakramen yang agung. Aku berbicara dalam nama Kristus dan Gereja.” Yesus Kristus, Adam yang kedua, juga dengan suka hati membiarkan DiriNya tidur - tidur dalam alam maut di salib. Ia juga dengan rela hati membiarkan lambung-Nya dibuka, agar Hawa yang kedua, Mempelai-Nya yang Perawan, Gereja, ibu semua yang hidup, dapat dibentuk darinya. Adalah kehendak-Nya untuk memberikan kepada Mempelai-Nya: darah penebusan, air pemurnian, dan roh-Nya - ada tiga yang memberi kesaksian di bumi - dan untuk menganugerahkan juga kepada Gereja-Nya sakramen-sakramen yang kudus, agar Gereja-Nya murni, kudus dan tak bercela. Ia akan menjadi Kepala Gereja-Nya, dan kita akan menjadi anggotanya, di bawah ketaatan pada Kepala. Gereja adalah tulang dari tulang-Nya dan daging dari daging-Nya. Dengan mengambil rupa manusia, Ia rela menanggung sengsara dan wafat bagi kita. Ia juga meninggalkan Bapa-Nya yang Kekal, agar dapat bersatu dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja, dan Ia menjadi satu daging dengannya, dengan memberi Gereja-Nya makanan Sakramen Mahakudus dari Altar, di mana Ia secara terus-menerus mempersatukan DiriNya dengan kita. Ia dengan suka hati tinggal di dunia bersama Gereja-Nya, hingga kita semuanya dipersatukan oleh-Nya dalam kawanan-Nya. Ia telah bersabda: “alam maut tidak akan menguasainya.” Demi kasih-Nya yang tak terhingga kepada orang-orang berdosa, Kristus telah menjadi manusia dan menjadi saudara dari orang-orang berdosa ini, agar Ia dapat menanggungkan ke atas DiriNya Sendiri hukuman atas segala kejahatan mereka. Yesus telah merenungkan dengan dukacita yang dalam, besarnya hutang ini dan sengsara yang tak terucapkan dengan mana hutang itu dapat dihapuskan. Namun demikian, Ia sepenuhnya bersukacita dalam menyerahkan DiriNya pada kehendak Bapa Surgawi sebagai kurban pepulih. Tetapi sekarang, Ia melihat segala penderitaan, pertikaian dan luka-luka dari Mempelai Surgawi-Nya di masa yang akan datang. Singkat kata, Ia melihat segala kedurhakaan manusia.
.... Andai aku berbicara sepanjang tahun pun, tak kan pernah dapat aku memerinci segala penghinaan yang dilakukan terhadap Yesus dalam Sakramen Mahakudus, seperti yang dinyatakan kepadaku dengan cara ini. Aku melihat para pemimpin mereka menyerbu Yesus dalam kelompok-kelompok, menyerang-Nya dengan berbagai macam senjata, sesuai ragam penghinaan mereka. Aku melihat orang-orang Kristen yang tidak hormat dari segala abad, para imam yang sembrono dan yang melakukan dosa-dosa sakrilegi, himpunan mereka yang menyambut komuni dengan suam-suam kuku dan tidak layak, para prajurit jahat yang mencemarkan bejana-bejana kudus, dan hamba-hamba setan yang mempergunakan Ekaristi Kudus dalam misteri-misteri mengerikan dari pemujaan setan. Di antara kelompok-kelompok ini, aku melihat sejumlah besar teolog, yang telah terjerat ke dalam ajaran sesat karena dosa-dosa mereka. Mereka menyerang Yesus dalam Sakramen Mahakudus Gereja-Nya, dan dengan bujuk rayu dan janji-janji, mereka merenggut dari Hati-Nya banyak jiwa-jiwa yang untuknya Ia telah menumpahkan darah-Nya. Ah! sungguh suatu penglihatan yang mengerikan. Aku melihat Gereja sebagai Tubuh Kristus; dan segala gerombolan manusia ini, yang memisahkan diri dari Gereja, mengkoyak-koyak serta mencabik-cabik seluruh daging-Nya yang hidup. Sungguh malang! Ia memandang mereka dengan tatapan yang amat memelas, dan Ia berduka sebab dengan demikian mereka mengakibatkan kebinasaan kekal bagi dirinya sendiri. Ia telah menyerahkan DiriNya Sendiri yang Ilahi kepada kita sebagai Makanan dalam Sakraman Mahakudus, guna mempersatukan kita - umat manusia yang terpecah-belah dan terpisah-pisah hingga tak terhingga satu dengan yang lainnya - sebagai satu tubuh - yaitu Gereja, Mempelai-Nya. Dan sekarang Ia melihat DiriNya Sendiri terkoyak dan tercabik dalam tubuh-Nya; sebab karya kasih-Nya yang terutama, Komuni Kudus, di mana manusia seharusnya dipersatukan menjadi satu, sekarang telah menjadi subyek perpecahan akibat kekejian para guru palsu. Aku melihat sekalian bangsa, dengan demikian direnggut dari pelukan-Nya dan dicabut keikutsertaannya dalam harta karun rahmat yang ditinggalkan-Nya bagi Gereja. Akhirnya, aku melihat mereka semua yang terpisah dari Gereja terjerumus ke kedalaman kekafiran, takhayul, bidaah, dan filsafat dunia yang menyesatkan. Dan mereka melampiaskan angkara murka mereka dengan menggalang kekuatan besar untuk menyerang Gereja, dengan didorong oleh ular yang bersorak-sorak di antara mereka. Sungguh malang! seolah-olah Yesus Sendiri yang telah terkoyak hingga hancur berkeping-keping!
Sungguh dahsyat ketakutan dan kengerianku, hingga Mempelai Surgawi-ku menampakkan diri kepadaku dan dengan penuh belas kasihan menempelkan tangan-Nya ke hatiku seraya berkata: “Belum pernah seorang pun melihat segala hal ini, dan engkau, hatimu akan hancur dalam dukacita jika Aku tak memberimu kekuatan.”
Aku melihat tetes-tetes besar darah menuruni wajah Juruselamat kita yang pucat, rambut-Nya kusut, janggut-Nya berlumuran darah dan lengket. Setelah penglihatan yang terakhir aku ceritakan, Ia melarikan diri, begitulah istilahnya, dari gua dan kembali kepada para murid-Nya. Tetapi Ia berjalan dengan sempoyongan; penampilan-Nya bagaikan seorang yang penuh luka-luka dan bongkok di bawah suatu beban yang berat. Ia terseok-seok di setiap langkah-Nya.
Ketika Ia tiba di hadapan ketiga rasul, mereka tidak sedang terbaring tidur seperti sebelumnya, tetapi kepala mereka diselubungi, dan mereka merunduk di antara kedua lutut mereka, dalam suatu sikap yang biasa diambil orang dari bangsa itu ketika sedang berduka atau berdoa. Mereka tertidur, dikuasai dukacita dan letih. Yesus gemetar dan mengerang, mendekati mereka, dan mereka pun terbangun.
Senin, Maret 10, 2008
Persembahan Terbaik
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”(Roma 12 : 1-2)
Inilah persembahan sejati yang Tuhan cari dari kita. Tapi gimana caranya persembahin tubuh? Jangan terus langsung ngebayangin bikin mezbah dari batu kayak di zaman Alkitab terus kita tidur di atasnya, siap buat dibakar sampe abis. Gak dong! Bukan gitu artinya mempersembahkan tubuh. Mempersembahkan tubuh artinya mempersembahkan semuanya buat Tuhan. Kita punya kerinduan buat memberikan semua yang kita punya sama Tuhan. Gak ada satu pun yang kita tahan-tahan, wong semua yang kita punya juga ‘kan punya Dia. Dan juga kita taat sama Tuhan. Di zaman Perjanjian Lama, orang mempersembahkan korban salah satunya karena mereka taat sama perintah Tuhan. Apapun yang Dia suruh, kita lakukan, itu juga artinya mempersembahkan tubuh.
Kenapa kita harus menyembah tuhan?
*) Karena Dia layak disembah
"Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Wahyu 5:12)
Dia adalah pencipta semua alam semesta yang luar biasa. Dia Allah yang besar en berkuasa. Dia penebus dosa kita. Dia juga merancangkan yang baik buat kita-kita. Ada alasan lain buat ngeyakinin elo-elo kalo Dia emang layak disembah?
*) Karena Tuhan yang nyuruh
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4 : 10)
Loh emang Tuhan itu gila hormat apa sampe nyuruh kita menyembah Dia? Gak gitu lagi. Alasan kenapa Tuhan nyuruh kita menyembah Dia soalnya, Dia tau kalo kita, manusia itu, gampang banget menyembah sesuatu yang kelihatannya hebat. Padahal itu ‘kan sama aja dengan penyembahan berhala. En Tuhan paling benci sama penyembahan berhala, makanya Dia nyuruh kita menyembah Dia.
*) Karena itu adalah tujuan Tuhan ciptain kita
“Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.” (Yesaya 43:21)
Setiap ciptaan pasti dibuat dengan tujuan. Kita membuat kursi dengan tujuan spesifik: untuk tempat duduk. Begitu pula dengan manusia, ia dibuat untuk dapat menyembah penciptaNya, cuma manusia diminta buat menyembahNya gak kayak robot, ia punya kehendak bebas.
Find Yourself..
Tetapi Yesus mengajariku yakin bahwa aku adalah api.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah seutas senar.
Tetapi Yesus mengajariku yakin bahwa aku adalah sebuah harpa.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah sebuah bukit kecil.
Tetapi Yesus mengajariku yakin bahwa aku adalah sebuah gunung.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah setetes air.
Tetapi Yesus menyakinkanku bahwa aku adalah sumber air.
Dunia mengatakan aku hanyalah sehelai bulu.
Tetapi Yesus meyakinkanku bahwa aku adalah sebuah sayap.
Dunia mengatakan bahwa aku hanyalah seorang pengemis.
Tetapi Yesus meyakinkanku bahwa aku adalah seorang Raja.
We Are Special
K: Kristus sendiri yang mendirikan Gereja. Sebagai gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, Gereja Katolik telah berumur lebih dari 2000 tahun (usianya lebih panjang dari Gereja Kristen mana pun!).
A: Apostolik. Hidup Yesus sendiri diberikan kepada kita melalui sakramen-sakramen, ajaran-ajaran Gereja dan melalui pewartaan-pewartaan yang disampaikan oleh para biarawan, biarawati maupun kaum awam.
T: Tujuh Sakramen diwariskan oleh Yesus kepada Gereja.
O: rOh Kudus telah dikaruniakan oleh Yesus yang Mahapengasih kepada kita untuk membimbing kita masing-masing agar kita dengan segenap hati hidup seturut teladan Yesus.
L: Lestari. Gereja Katolik telah menerima janji Roh Kudus bahwa Ia akan senantiasa memeliharanya dalam kebenaran.
I: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu." Dalam Gereja Katolik, Hosti selalu ditahtakan dalam Tabernakel, artinya Yesus senantiasa hadir dalam gereja kita. Kita dapat pergi dan berdoa kepada-Nya kapan saja kita mau.
K: Kristus bekerja melalui Gereja bagi keselamatan seluruh umat manusia karena Ia mengasihi semua orang.
Nah, sebagai permulaan, di atas itu adalah tujuh alasan penting mengapa kita memilih menjadi seorang Katolik.
__Menjaga Hati Saat Pelayanan__
“Biarkan aku menjaga perasaan ini. Menjaga segenap cinta yang telah kau beri. …” Itulah kiranya sepenggal lirik lagu duniawi yang akhir-akhir ini terdengar jelas dimana-mana. Menjaga Hati.
Yupp.. Sama seperti Maria yang selalu menjaga hatinya, sehingga tidak bercela sedikitpun, kita juga seharusnya menjaga hati kita ketika kita melangkah kedalam dunia pelayanan. Ingat selalu Amsal 4 : 23..!! (Baca sendiri yah.. ^_^)
Memasuki lingkungan gereja bukan berarti memasuki kawasan orang kudus yang sikap dan tingkah lakunya persis seperti malaikat. Sekali lagi saya katakan BUKAN..!! Jangan pernah berkhayal seperti ini, kalo kamu gak mau kecewa.
Memang ada pelayan Tuhan yang karakternya udah terbentuk dengan baik seiring dengan langkahnya yang tetap setia berjalan bersama Kristus. Namun gak sedikit juga orang-orang yang masih belum dewasa rohani bahkan cenderung bersikap kekanak-kanakan. Mungkin pertapa kali kita bisa terkejut, tapi percaya deh bahwa Tuhan merencanakan sesuatu dengan keadaan yang demikian.
Ketika melihat fenomena yang seperti ini, Tuhan dan saya sungguh berharap kamu tidak mundur selangkah pun! Justru saat itu kedewasaan rohani kita akan ikut dibentuk juga. Jangan Kecewa… maju dan tetap melangkah melayani Tuhan dengan setia walaupun keadaan jauh berbeda dari apa yang kita harapkan. Karna saat kaki kita mulai melangkah untuk melayani Tuhan, Iblis juga akan berusaha menarik kakimu dengan sekuat tenaga untuk mundur dari pelayanan itu. Mari kita katakan, “Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, hai iblis yang berada di kakiku! Jangan tarik lagi kakiku, karna seluruh tubuhku ini adalah persembahan yang kudus bagi Tuhan. Amin!”
Sangat wajar kalo iblis juga ikut-ikutan repot mencampuri urusan bergereja. Iblis kan emang gak pernah diam, Sementara ada anak Tuhan yang lagi buka celah sedikit ketika masuk ke area pelayanan, Iblis senantiasa merobek-robek celah itu untuk dapat dimasukinya. Jangan heran bila saat kita mulai melayani justru dosa lamamu mulai diutak-atik. Iblis akan menawarkan kembali kenajisan dunia dengan cara yang jauh lebih meyakinkan, supaya kita menjadi hamba Tuhan yang tidak sepenuh hati. Dengan begini pelayanan kita tidak akan berhasil.
Satu hal yang iblis inginkan adalah membuat anak-anak Tuhan yang adalah pelayan Tuhan mundur dari pelayanannya dan menikmati dunia dengan caranya yang najis. Jika kita mundur dari pelayanan, Iblis bergirang. Tapi jika dalam kesesakan kita tetap setia melayani Tuhan, surga beserta malaikat-malaikatnya bersukacita, bersorak sorai memuliakan Allah. Pilih yang mana..?!
Which one you choose: Carrot, Egg, or Coffee...?!
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan persoalan lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anaknya ke dapur. Ia lalu mengambil 3 buah panci. Mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian, air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Pada panci kedua, ia masukkan sebutir telur, dan panci ketiga beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkannya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir, ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh kepada anaknya dan bertanya, ”Apa yang kaulihat, nak?”
”Wortel, telur, dan kopi,” jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan baha wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu untuk mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu.
“Apa maksud semua ini, Ayah?” tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus malah mengubah air yang merebusnya itu.
“Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya.


