Kamis, Maret 20, 2008

Drama Penyaliban Yesus

Di bulletin gereja Holy Trinity Dubuque, Iowa, termuat sebuah kisah sederhana, kisah drama penyaliban Yesus yang aku yakin pernah kita saksikan dalam hidup kita. Di hari Jumat Agung saat memperingati sekali lagi peristiwa penyaliban Yesus, kisah yang sudah tidak asing ini didramatisasi sekali lagi di banyak tempat, dan anda pasti pernah menyaksikan drama seperti ini.

Dikisahkan dalam bulletin tersebut bahwa seorang pastor yang bekerja di Pacific Northwest bercerita tentang pengalaman bagaimana ia menonton drama penyaliban Yesus di parokinya yang dilakonkan oleh kelompok kaum muda paroki. Pembimbing kaum muda melakonkan peranan Yesus, sedangkan anggota kelompok kaum muda mewakili kelompok massa yang memenuhi halaman istana Kaifas dan Pilatus serta Via Dolorosa di saat penyaliban Yesus dan berteriak keras menuntut kematiannya.

Suara mereka bergema keras; ¡§Salibkan dia!! Salibkan Dia!!¡¨ Lalu mereka menyeret pelakon Yesus menuju halaman gereja dan di sana peristiwa penyaliban itu dilakonkan.

Dari atas salib sang ¡§Yesus¡¨ mengucapkan lagi ketujuh kalimat keramat yang pernah diucapkan Yesus, namun sang ¡§Yesus¡¨ kadang memodifikasi kata-kata Yesus agar sesuai dengan situasi mereka. Sedangkan pastor paroki berada di tengah umat menyaksikan drama tersebut. Baginya, drama itu hanyalah salah satu bentuk lakonan dari sekian drama penyaliban yang pernah dia lihat, dia bahkan sudah mampu menerka adegan apa yang akan terjadi berikutnya.

¡§Walaupun kamu melakukan hal ini terhadap saya, namun ketahuilah saya tetap mencintai kamu, aku memaafkan kamu!¡¨ Demikian Yesus berkata-kata. Dan di saat Yesus mulai berteriak dari atas salibnya, sang pastor melihat seorang gadis kecil delapan tahun berdiri di depan kelompok anak-anak. Ada air mata mengalir di pipinya disertai isak tangis. Si gadis kecil seakan tak mampu menerima bahwa Tuhannya harus menerima nasib seperti itu.

Sang pastor itu berkata, ¡§Saat melihat air mata di pipi sang gadis kecil ini, aku merasa iri terhadapnya. Buat aku yang ¡¥professional¡¦ adegan di hadapanku hanyalah sebuah drama. Namun bagi sang gadis cilik ini, hal itu adalah sesuatu yang nyata.¡¨ Sang gadis kecil ada di sana saat Yesus disalibkan dan dia mampu merasakan seluruh situasi saat itu dengan seluruh dirinya sendiri. Sang pastor masih melanjutkan, ¡§Sering kali saya datang mengikuti upacara Jumat Agung hanya sebagai penonton untuk melihat apa yang terjadi pada diri Yesus. Namun aku lupa bahwa Yesus tergantung di di atas kayu kering ini menderita lahir dan bathin, menderita karena secara fisik dia dirajam. Dia juga menderita secara bathin, karena dia dipermalukan, Dia ditelanjangi di depan publik. Namun Dia menerima semuanya ini hanya karena satu alasan, karena Dia mencintai aku dan anda. Adegan penyaliban adalah sebuah bahasa yang diucapkan Yesus bahwa Dia rela mati secara keji agar aku dan anda tetap hidup!!

Terima kasih Yesusku!!

Tidak ada komentar: