Sudah sekitar 8 bulan saya tinggal di Jakarta. Kota yang “menyeramkan”, seperti kata orang kebanyakan. Opini inilah yang seringkali membuat saya takut untuk berjalan keluar rumah. Namun, dengan berbekal kepercayaan akan Yesus yang selalu menjaga dan melindungi saya, saya memberanikan diri untuk melaksanakan aktifitas keseharian saya di luar rumah.
Sebagai seorang pendatang, banyak hal yang harus saya pelajari dari kota metropolitan ini. Mulai dari rute jalan yang harus dilewati dari rumah menuju kampus, nomor angkutan bus kota, hingga kejahatan yang selalu menghantui benak saya. Menjalani keseharian sebagai seorang mahasiswa memang lebih bebas daripada anak SMA. Namun, keseriusan kita dituntut untuk mendapatkan gelar secepat mungkin. Hal itulah yang mendorong saya untuk selalu belajar keras dan menghargai kepercayaan orang tua yang diberikan kepada saya.
Saat ini, saya masih numpang tinggal dengan saudara. Hidup jauh dari orang tua membuat saya selalu rindu akan kampung halaman tercinta. Namun saya harus selalu kuat menghadapi semua ini. Tinggal dengan saudara, bukan berati kita melepaskan pekerjaan rumahan. Justru kita harus rajin agar kita dihargai sebagai anak yang baik. Kebetulan, saudara saya memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Jadi, pada saat bulan puasa, saya harus menghargai kewajiban mereka.
Pada awalnya, saudara saya senang dengan keberadaan saya disini. Namun, lama kelamaan, terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Perselisihan terjadi, dikarenakan saya jarang membantu untuk membereskan rumah, menyapu, mengepel, mencuci piring, apalagi memasak nasi atau air sekalipun. Belum lagi masalah pemakaian telepon, listrik, cucian, air untuk mandi, serta makan sehari-hari. Mungkin menjadi beban bagi mereka.
Hal tersebut menjadi refleksi harian saya. Setiap malam saya berdoa kepada Tuhan memohon yang terbaik bagi saya. Inilah yang saya dapatkan, kemarahan demi kemarahan setiap hari menjadi bahan yang tak asing lagi bagi telinga saya. Saya mencoba melaporkan semuanya ini kepada ayah dan ibu saya. Tanggapannya sebatas nasehat saja.
Mungkin inilah ujian dari Tuhan bagi saya. Hingga pada saat mereka merayakan hari kemenangan mereka, saya memohon maaf atas semua kesalahan dan kelalaian yang telah saya lakukan. Saya juga mendengar sebuah renungan dari seorang Romo pada misa hari minggu yang berkata “Tuhan itu baik bagi kita. Bila kita meminta sesutu kepadanya, namun yang diberikan adalah yang berbeda dari keinginan kita, maka Tuhan tetap adalah baik. Karena, Tuhan memberikan kepada kita apa yang terbaik menurut kehendakNya.” Jadi, walaupun kita mendapatkan sesuatu yang buruk, terimalah itu sebagai ujian dalam hidup kita. Itulah bagian dari kehidupan. Itulah Pil Pahit hidup. Kita harus menerima kenyataan yang telah Tuhan gariskan untuk kita.
Ø



1 komentar:
temen2 yg mo kasih comentnya, bisa disini yach..
Makasih...
_GOD Bless_
Posting Komentar