Minggu, Maret 23, 2008

Paska: Surat Maria Magdalena untuk Josef dari Arimatea

Salam bagimu Josef, saudaraku dalam Kristus. Aku ingin menceritakan apa yang pernah terjadi padaku di pagi hari pertama minggu itu. Saat itu di pagi buta ketika alam raya masih dirundung kegelapan aku meninggalkan kota Yerusalem, sendirian. Aku yakin beberapa orang saat itu tahu bahwa aku menyelinap pergi di pagi buta itu. Mungkin mereka berpikir aku telah kembali mengulangi pekerjaan masa laluku mencari mangsa di saat mentari belum lagi bersinar. Namun bagaimana mungkin hal ini terjadi? Aku sedang dirundung duka nestapa yang paling dalam. Aku merasa tak ada duka yang paling duka melampaui kedukaanku saat itu.

Tiga hari telah lewat. Dan saat itu mataku yang telanjang melihat sebuah adegan yang memilukan. Walau aku telah mengenal begitu banyak lelaki dalam hidupku, namun tak ada satupun dari mereka yang bisa memenuhi bathinku, hingga suatu saat ketika aku berpapasan dengan Dia yang telah mengusir tujuh roh jahat dari dalam diriku. Pandangan mataNya begitu teduh membuat aku merasa nyaman untuk menjadi diriku sendiri. Sejak itu aku menemukan kembali martabat diriku. Sejak itu hanya ada satu nama yang berdiam dalam inti sanubariku yang paling dalam, dan nama itu tak lain adalah nama Yesus. Sejak itu aku meninggalkan kebiasaan masa silamku dan mengikuti Dia. Berada di sampingnya, melihat wajahnya, mendengarkan kata-katanya telah cukup untuk memuaskan kerinduan bathinku yang paling dalam, kerinduanku untuk menemukan sebuah arti dalam hidup yang singkat di dunia ini.

Dan apa yang terjadi tiga hari yang lalu, Josef? Aku yakin engkau tahu hal ini karena engkaupun ada di sana. Ketika Yesus berteriak "Selesailah sudah!", di saat itu aku melihat duniaku serasa gelap gulita, hampa tiada makna. Saat itu dunia seakan telah mencapai titik akhirnya tanpa harapan akan hari esok. Ia yang diharapkan menjadi raja kini tinggal kulit membalut tulang tergantung lesu di antara langit dan bumi di atas sebuah palang kayu kering yang dingin. Masih teringat beberapa saat lalu, ketika para serdadu menghempaskan palu berat ke atas paku yang menembusi tangan dan kakinya, di saat itu aku merasa bahwa tubuhkupun ikut tersobek berkeping-keping. Ketika serdadu menancapkan tombak menembusi jantungnya, aku merasa bahwa hatikupun serasa ikut hancur dan luluh. Paku karat juga menembusi tubuhku. Tombak tajam juga mengiris jantungku. Saat itu tak ada harapan lain kecuali satu keinginan untuk ikut mati bersama dia yang aku cintai. Aku yakin bahwa iapun mencintai diriku. Aku lemah dan jatuh pingsan di kaki salib itu tanpa ada seorangpun yang menghiraukan keadaanku. Namun akhirnya aku tersadar, ternyata aku belum mati, tetapi harus memeluk bathinku yang terus mengucur darah, darah kepedihan dan penderitaan.

Aku tak ingin untuk meninggalkan tempat penyaliban itu. Lebih baik aku duduk di kaki salib itu menjaga tubuhnya yang telah berubah kaku dari pada tubuh Tuhanku dimakan gerombolan anjing liar yang menanti di kaki salib itu. Kawanan anjing itu tahu bahwa setelah keramaian itu berakhir mereka akan memperoleh santapan gratis. Dan aku tak mau tubuh Yesusku mengalami nasib seperti itu. Namun aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap tubuh kaku dan lesu itu. Terima kasih Josef, bahwa akhirnya engkau datang bersama Nikodemus untuk memasukan tubuh Yesus dalam kubur baru yang kau siapkan itu. Sekali lagi terima kasih!

Selama tiga hari tiga malam yang terdengar di antara kami hanyalah suara ratap dan tangis tanpa henti. Dan di kejauhan sana kami mendengar suara sorakan ria dari mereka yang menginginkan kematian Yesus. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana para prajurit menari ria di bawah kaki salib ketika membuang undi atas pakaian Yesus. Kini seluruh kota Yerusalem seakan berpesta ria karena kematian Yesus. Mereka menari, mereka bersorak. Namun pada saat yang sama hati kami hancur lebur, luluh dan lantak.

Kini di pagi hari ketiga, ketika hari masih gelap. Dadaku seakan meledak oleh kerinduan untuk datang ke kubur Yesus. Seorang diri aku berlari di tengah ketakutanku. Semoga sepanjang perjalananku tak ada orang yang memergoki aku. Dan walaupun di tengah kegelapan, aku tahu di mana kubur Yesus itu. Tapi Josef, apa yang terjadi ketika saya tiba di sana? Aku menemukan kubur telah terbuka. Batu besar yang menutup pintu kubur Yesus telah terguling. Dan di sana tak kutemukan tubuh Yesus. Tahukah engkau perasaan apa yang menyelimuti aku di saat itu? Pedihhh!!! Tuhanku telah mati secara keji. Dan kini aku harus berhadapan dengan kekejian yang baru, yakni bahwa tubuhnya telah dicuri. Aku membayangkan kalau-kalau tubuhnya telah dibuang di tengah kawanan anjing liar yang memenuhi taman Golgotha ini. Mataku yang telah membengkak karena menangis selama tiga hari, kini harus dipaksa menangis lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Bingung tak tahu apa yang harus diperbuat. Bingung tak tahu ke mana aku harus pergi. Aku bahkan bingung bagaimana harus tetap hidup. Kini aku telah kehilangan segalanya, tidak juga mayat yang telah tak bernyawa itu.

Dalam kepedihanku aku mendengar seseorang bertanya kepadaku, "Mengapa engkau menangis?" Tak mampu aku menahan tangisku di saat itu, aku bahkan semakin keras menangis dan menjawab, "Mereka telah mengambil tubuh Tuhanku, dan aku tak tahu di mana mereka meletakannya." Aku membalikan badanku ke arah suara itu, dan aku melihat secara samara-samar seorang tukang kebun berdiri di sana. Sekali lagi ia melontarkan pertanyaan yang sama. Sebetulnya aku tak ingin menjawab pertanyaannya dan melanjutkan ratap tangisku. Namun tiba-tiba sebuah pikiran muncul di benakku, siapa tahu sang tukang kebun ini tahu di mana tubuh Yesus diletakan. Karena itu aku menjawab di tengah isak tangisku, "Kalau seandainya engkau telah mengabil tubuhnya, tolongggggg....tolonggggg katakan kepadaku di mana telah kau letakan tubuh itu, agar aku mengambilnya dan menempatkannya di tempat yang aman."

Dan sungguh luar biasa Josef. Kudengar namaku disebut. Kudengar namaku dipanggil. Bagaimana mungkin sang tukang kebun ini mengetahui namaku? Dan justru ketika namaku "Maria" dipanggilnya, di saat itu juga aku yakin sejuta kali bahwa orang yang berdiri di sana bukanlah tukang kebun, tetapi Yesus sendiri. "Guru!!! Guruuuu!!!" Aku berteriak dan meratap sekuat tenagaku. Namun kini ratapanku bukanlah suatu ratapan kesedihan, tetapi kegembiraan. Aku berlari ke arahnya dan berusaha memeluk kakinya, kaki yang pernah aku urapi dengan minyak wangi beberapa saat yang lalu. Aku ingin mencium lagi kaki yang pernah ditembusi paku karat dan dingin itu. Namun niatku segera kuurungkan ketika dia mengatakan bahwa dia belum kembali ke rumah bapanya. Dia memberikan sebuah pesan; "Pulanglah, dan beritakanlah hal ini kepada saudara dan saudariku yang lain."

Dan Josef...! Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan di Yerusalem, aku bagai seorang gila. Kalau sebelumnya aku menangis dan menangis, kini aku menari dan terus menari. Aku tak peduli ketika banyak orang yang memulai kesibukan hari itu melihat diriku. Mereka mengira bahwa ke tujuh roh jahat yang pernah diusir oleh Yesus dari diriku kini telah lembali merasuki diriku. Aku tak peduli. Aku tahu mengapa aku menari. Dan memang aku harus menari. "Aku telah melihat Tuhan. Ia tidak mati, tetapi tetap hidup." Ketika pesan Yesus ini aku sampaikan, tak satupun yang percaya. Mereka harus berlari menuju kubur Yesus. Mereka membutuhkan bukti, dan akhirnya percaya juga.

Josef saudaraku...! Yesus yang kau kuburkan itu telah bangkit. Dia tetap hidup! Dan kita memiliki alasan untuk menari, yakni bahwa kebangkitan Yesus menjadi jaminan bagi kita. Kita kelak akan bangkit lagi seperti Dia. Alleluya!!! Mari kita bersama-sama menari! Let us dance the night away, because Jesus is risen!

1 komentar:

Judika Asima Naibaho mengatakan...

pengalaman hidup dan motivasi