Dalam bacaan kedua minggu lalu yang diambil dari surat Paulus kepada umat di Filipi kita mendengar Paulus berkata; "Walaupun dalam rupa Allah, namun Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Fil 2:6-7). Kita menemukan contoh nyata dari kata-kata Paulus ini secara amat transparan dalam bacaan Kamis Putih yang diambil dari Injil Yohanes. Di sana, Yesus tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakannya sendiri yang nyata, yakni menanggalkan pakaiannya, membungkukan badannya di hadapan para muridnya dan mencuci kaki mereka.
Dua tahun lalu saat mengunjungi Israel bisa dilihat dengan jelas bagaimana tapak jalan di Palestina. Debu beterbangan di musim panas dan tentu saja akan becek berlumpur di saat hujan. Dan bisa kita bayangkan keadaan jalan di sana dua ribu tahun silam. Alas kaki yang biasa bagi kebanyakan orang adalah sandal (kayak sandal jepit dewasa ini). Alas kaki seperti ini tentu saja tak mampu melindungi kaki dari debu dan lumpur yang berhamburan sepanjang perjalanan. Karena alasan inilah, di depan pintu setiap rumah selalu disediakan air secukupnya, dan kebiasaan membasuh kaki sebelum memasuki rumah ini bahkan telah menjadi bahagian dari tata hukum pentahiran yang harus dipatuhi, seperti halnya membasuh tangan sebelum makan. Bila para tamu hendak memasuki rumah, seorang hamba telah menunggu di depan pintu dekat persediaan air itu dengan handuk di tangan, siap untuk mencuci kaki para tamu.
Dalam kelompok kecil Yesus dengan para rasulnya tak ada orang yang berperan sebagai hamba. Yesus bahkan mengatakan secara terus terang kepada para muridnya bahwa Ia tidak akan memanggil mereka sebagai hamba (Yoh 15:15). Dan di antara para murid sendiri pernah terjadi pertengkaran untuk memperebutkan tempat terhormat di antara mereka (Mark 9:34). Mereka mungkin melihat keberadaan mereka bersama Yesus sebagai sebuah status yang harus dibanggakan, dan dengan demikian tak akan rela untuk membungkukan badan untuk tunduk melayani yang lain, apa lagi mencuci kaki yang lain. Dan dalam situasi seperti inilah Yesus mengambil peran sang hamba yang berdiri di depan pintu dengan handuk di tangan untuk mencuci kaki para "tamunya."
Paulus benar...!!! Bahwa Yesus "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba." Saat ini adalah saat terakhir kalinya Yesus makan bersama para rasulnya. Namun ia tak hanya ingin mengadakan "farewell party" dengan para muridnya, tetapi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan sebuah ajaran amat penting, yakni mengajarkan para muridnya untuk saling mengasihi. Dan Yesus, dengan perbuatannya yang nyata mengajarkan bahwa ungkapan paling jelas dari "mencintai sesama" nampak dalam action to serve others.
Mengapa sang Sabda Allah, sang Sabda yang adalah Allah dan yang sejak awal mula ada bersama Allah harus mengambil peran seorang hamba untuk mencuci kaki para muridnya, para murid yang tak sudi membasuh kaki sesamanya yang lain? Mungkin karena Yesus mampu melihat kehadiran dirinya sendiri dalam diri mereka. Yesus yang dipenuhi kehadiran Roh Kudus mampu melihat dengan mata cinta. Sedangkan mata para muridnya masih belum terbuka. Roh Kudus baru akan dicurahkan setelah kebangkitannya, dan karena itu saat ini mereka masih dikuasai oleh kegelapan, oleh kelemahan diri mereka sendiri. Kelak setelah mata mereka terbuka, mereka akan melayani tanpa lelah untuk mewartakan cinta Tuhan hingga ke segala sudut bumi.
Di saat para murid sibuk memperebutkan tempat terhormat di antara mereka, Yesus justru memilih untuk menjadi hamba yang bersedia untuk melayani. Mungkin aku dan anda sama seperti para murid, berusaha menjadi yang terbesar. Namun kita lupa bahwa kunci menjadi yang terbesar itu justru terletak pada keberanian untuk menjadi kecil, keberanian untuk meninggalkan segala kebesaran dan menghampakan diri menjadi seperti seorang hamba yang siap dengan handuk di tangan untuk mencuci kaki orang lain.
Selamat memasuki hari Perjamuan Terakhir bersama sang Guru yang adalah juga sang hamba.
Kamis, Maret 20, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar