Senin, Maret 10, 2008

Which one you choose: Carrot, Egg, or Coffee...?!

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan persoalan lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anaknya ke dapur. Ia lalu mengambil 3 buah panci. Mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian, air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Pada panci kedua, ia masukkan sebutir telur, dan panci ketiga beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan masing-masing mendidih.

Selama itu ia terdiam seribu bahasa. Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkannya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir, ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh kepada anaknya dan bertanya, ”Apa yang kaulihat, nak?”

”Wortel, telur, dan kopi,” jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan baha wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu untuk mencicipi kopi. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu.

“Apa maksud semua ini, Ayah?” tanya sang anak.

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus malah mengubah air yang merebusnya itu.

“Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya.

“Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur, atau sebiji kopi?”

Tidak ada komentar: